Jurnalbangsa.com, Jember – Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi, sejumlah Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Kabupaten Jember, melakukan agenda pengambilan kompos di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kecamatan Pakusari, pada Rabu, (22/4/2026).
Koordinator Forum Ketua Umum Mapala Jember, Muhammad Rasya Firdaus, menyampaikan bahwa kompos yang diambil telah terbentuk selama 10 tahun ke belakang di TPA Pakusari.
“Kompos tersebut sudah kami kaji yang namanya adalah selapanan konservasi. Di sana kami sudah banyak, membahas tentang pupuk-pupuk kompos yang nantinya kita olah. Setelah ini kompos yang di sini akan kita bawa pulang,” kata Rasya, saat ditemui di TPA Pakusari.
Kata Rasya, pengambilan kompos tersebut digunakan untuk media tanam di setiap sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapala di Jember.
Selain itu, kata dia, pihaknya akan membuat media sosial sebagai wadah publikasi untuk penyebaran wawasan tentang kompos tersebut.
“Untuk memberikan wawasan baru kepada masyarakat, bahwasanya sampah yang tertumpuk di TPA, itu ternyata bisa digunakan dan bisa bermanfaat bagi tumbuhan,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut diikuti oleh kurang lebih sebanyak 30 mahasiswa Mapala di Jember.
Rasya menjelaskan alasannya memilih TPA Pakusari sebagai tempat pengambilan kompos, karena banyak menerima sampah dalam jumlah banyak di setiap harinya.
“Karena yang dari kami kaji di Selapangan Konservasi. Kita mengulik dulu data-data terkait sampah yang ada di Jember. Ternyata sampah yang terindikasi paling banyak itu ada di TPA Pakusari,” ujarnya.
Menurut Rasya dari hasil kajiannya di Selapanan Konservasi, menunjukkan bahwa sampah yang dominan di TPA Pakusari adalah sampah organik dengan terhitung 81,9%.
Kata Rasya, agenda pengambilan kompos tersebut tidak berhenti saat peringatan Hari Bumi.
“Pastinya akan tetap berlanjut, di mana 2 sampai 3 bulan kita bakalan mengeshare, tentang bagaimana fungsi dari sampah di TPA, yang awalnya hanya dibuang saja, kemudian pemrosesannya tidak ada. Jadi kita mempersiapkan prosesnya dengan baik,” tegasnya.
Sementara itu, Totok Muhammad Sholeh, Operator Jembatan Timbang TPA Pakusari, mengapresiasi adanya agenda pengambilan kompos tersebut.
“Adanya adik-adik mahasiswa ini untuk mengambil kompos itu bagus. Jadi bisa mengurangi gundukan sampah,” kata Totok, saat ditemui di TPA Pakusari.
Menurut Totok, pengambilan kompos dari tumpukan sampah organik, bisa dimanfaatkan sebagai pupuk lahan pertanian, yang sudah mereka siapkan.












