Jasa Penggilingan Padi di Jember Keluhkan Kalah Saing dengan Selep Keliling

Tampak depan Usaha Dagang (UD) Sumber Alam, milik Hendry Angka Wijaya di Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung. (Foto: Fadli/Jurnalbangsa).
Tampak depan Usaha Dagang (UD) Sumber Alam, milik Hendry Angka Wijaya di Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung. (Foto: Fadli/Jurnalbangsa).

Jember, Jurnalbangsa.com – Musim panen padi telah tiba. Jasa penggilingan padi yang seharusnya ramai, namun berbeda dengan yang dialami oleh pelaku Usaha Dagang (UD) Sumber Alam, di Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung.

Hendry Angka Wijaya, selaku pemilik penggilingan padi, mengeluhkan bahwa kini usahanya mulai sepi, karena kalah saing dengan selep yang keliling di masyarakat.

“Kita sudah tersaing dengan penggilingan (selep) padi yang keliling-keliling itu. Cuma saya ini ngambil sisa-sisa saja mungkin gitu,” kata Hendry, saat ditemui di tempat penggilingan padinya, pada Rabu (18/3/2026).

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa persentase masyarakat yang menggiling sudah mulai berkurang.

“Sekarang ini banyak penggilingan kecil. Jadi biasanya 100 orang ke sini, mungkin (tinggal) 10 orang. Jadi sepi,” kata dia.

Menurut Hendry, di tahun-tahun sebelumnya kondisi penggilingan padinya juga sudah lama mulai sepi.

“Meskipun lebaran berapa tahun yang lalu itu sepi, karena nggk kepatan dengan panen gitu. Ini tepatan dengan panen sekarang,” katanya.

“Pada bulan-bulan mau lebaran ini, bertepatan dengan panen raya. Jadi masyarakat ada pada yang digiingkan,” kata dia.

Meski begitu, dia tetap menerima pesanan dari masyarakat yang ingin menggiling padinya.

“Kita menerima jasa dari masyarakat petani yang untuk konsumsi sendiri,” katanya.

Ia juga mengatakan berat gabah yang dibawa masyarakat untuk digiling bermacam-macam.

“Ada yang punya gabah 3 kuintal, 1 kuintal, 50 kilo, ada yang 20 kilo. Ya itulah. Jadi macam-macam masyarakat. Tergantung kebutuhan yang dia punya,” ujarnya.

Pos terkait