JEMBER – Film garapan RYC Studio yang berkolaborasi dengan Belva Juraisa Management ini hadir sebagai film anak yang mengusung cerita persahabatan sekaligus kekayaan budaya lokal Pandhalungan.
Produksi film yang seluruh proses pengambilan gambarnya dilakukan di wilayah Jember tersebut diharapkan menjadi warna baru di tengah dominasi film horor dan drama remaja di layar lebar.
Selain menawarkan hiburan, film ini juga membawa misi memperkenalkan identitas budaya lokal kepada generasi muda melalui cerita yang ringan dan dekat dengan kehidupan anak-anak.
Cerita film ini berpusat pada lima sahabat dari latar budaya berbeda yang harus belajar menyatukan perbedaan bahasa dan karakter demi menyelamatkan alat kesenian milik kakek salah satu tokoh.

Konflik yang muncul tak hanya soal persahabatan, tetapi juga tentang bagaimana anak-anak memahami arti kebersamaan, toleransi, dan pentingnya menjaga warisan budaya desa mereka.
Film ini menampilkan karakter Gibran, remaja pendatang yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru di Jember, lalu berteman dengan Siti, Anas, Laras, dan Maya yang tumbuh di lingkungan desa dengan kultur khas Pandhalungan.
Perbedaan bahasa dan kebiasaan awalnya kerap memicu konflik kecil, namun justru menjadi kekuatan yang menyatukan mereka dalam perjuangan bersama.
Pihak produksi menyebut film ini dirancang tidak hanya sebagai tontonan keluarga, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi anak-anak yang terlibat langsung di dalamnya.
Selain proses syuting, para pemeran cilik juga mendapat pelatihan akting, disiplin kerja tim, hingga penguatan karakter agar pengalaman produksi menjadi bekal positif bagi perkembangan mereka.
Seluruh proses produksi melibatkan talenta lokal Jember, mulai pemeran hingga kru pendukung.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya menumbuhkan kembali ekosistem perfilman daerah agar talenta muda tidak selalu harus pergi ke kota besar untuk mengembangkan karier di industri audio visual.
Proses syuting direncanakan berlangsung April mendatang, dengan sejumlah lokasi khas Jember dipilih sebagai latar cerita.
Kehadiran film ini diharapkan bisa menjadi pintu masuk kebangkitan film lokal sekaligus memperkenalkan identitas budaya Pandhalungan kepada penonton yang lebih luas melalui cerita anak-anak yang hangat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Jadi Ruang Belajar Para Aktris Cilik
Produksi film ini juga menjadi ruang belajar bagi para pemerannya.
Sejumlah talenta muda seperti Belva Juraisa yang memerankan Lhendria, Akira Amalia Firdaus sebagai Maya, Maha Mahacara Aria Daiva sebagai Siti, Pangeran Agnadylan Pradana sebagai Annas
Ceisya Qanita Putri Dinanda sebagai Laras, serta Ezzar Kalea A sebagai Gibran tidak hanya belajar menghafal dialog, tetapi juga dilatih disiplin, membangun kerja sama tim, serta memahami proses produksi film sejak dini.
Pengalaman bermain film ini diharapkan mampu membentuk karakter anak-anak menjadi lebih percaya diri sekaligus terlatih mengelola emosi saat berinteraksi dengan orang lain.
Pengalaman itu pula yang dirasakan para pemain selama mengikuti proses latihan dan persiapan produksi.
“Kalau sudah terbiasa acting, itu ngaruh ke cara komunikasi dengan orang lain, jadi lebih percaya diri. Selain itu kemampuan mengendalikan emosi juga lebih terlatih,” ujar Akira Amalia dalam konferensi pers film Aku Anak Pandhalungan beberapa waktu lalu.












