Prof Chotib Masuk Bursa Calon Rektor Terkuat, Angkat Tagline “UIN KHAS PASTI”

Prof. Dr. Moch. Chotib, Calon Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember periode 2026-2030. (Foto: Humas UIN KHAS Jember).
Prof. Dr. Moch. Chotib, Calon Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember periode 2026-2030. (Foto: Humas UIN KHAS Jember).

Jurnalbangsa.com, Jember– Prof. Dr. Moch. Chotib, kini digadang-gadang telah masuk bursa Calon Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, terkuat dari beberapa kandidat lain.

Dalam pencalonan ini, dia mengusung grand design strategis bertajuk “Sapta Laksya PASTI”, sebagai arah pengembangan kampus UIN KHAS menuju sentrum keunggulan akademik dan keilmuan Islam di kancah internasional.

Tagline “UIN KHAS PASTI”, merupakan singkatan dari Progresif, Aspiratif, Solutif, Transparan, dan Inspiratif.

Pria yang akrab disapa Cak Boy ini, ingin mengupayakan UIN KHAS Jember, menjadi Center of Excellence dalam transformasi pendidikan dan keilmuan Islam, berlandaskan kearifan sosial-lokal.

Menurut Chotib, perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) kini telah menghadapi tantangan multidimensional di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.

Tantangan tersebut, meliputi dikotomi antara ilmu agama dengan pengetahuan modern, hingga tuntutan peningkatan reputasi akademik kampus di tingkat internasional.

“UIN KHAS Jember harus melangkah keluar dari menara gading dan bertransformasi secara radikal menjadi Center of Excellence. Visi ini kami bangun di atas tiga pilar utama: transformasi keilmuan yang de-dikotomis, pengakaran pada kearifan sosial-lokal masyarakat Pandalungan, serta proyeksi reputasi di kancah internasional,” kata Chotib, pada Jumat (23/10/2026).

Kata dia, visi UIN KHAS PASTI menjadi pondasi membangun perguruan tinggi yang terbuka terhadap perkembangan zaman, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal masyarakat Jember.

Chotib telah merumuskan 7 sasaran strategis yang terangkum dalam Sapta Laksya PASTI.

Adapun ketujuh sasaran itu mencakup Laksya PASTI pendidikan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, penguatan mutu alumni, kemitraan berperadaban, transformasi digital dan kampus hijau, serta tata kelola kelembagaan.

Pada sektor pendidikan, Chotib mendorong penyelenggaraan pembelajaran yang inovatif, integratif, multidisipliner, dan berorientasi mengarah pada taraf internasional.

Untuk mewujudkan visi itu, nantinya kurikulum akan dikembangkan menggunakan pendekatan Outcome Based Education (OBE). Di mana mengintegrasikan sains modern, ontologi keislaman, dan kearifan lokal.

Melalui pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat kualitas pembelajaran mahasiswa, sekaligus meningkatkan relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan masyarakat dan permintaan dunia kerja.

“PASTI Pendidikan maksudnya adalah penyelenggaraan pendidikan inovatif, integratif-multidisipliner, serta bertaraf internasional. Kurikulum dikembangkan menggunakan pendekatan Outcome Based Education (OBE) yang memadukan sains modern, ontologi keislaman, dan kearifan lokal,” tuturnya.

Kemudian, pada bidang penelitian, Chotib membidik pengembangan riset transformatif yang mencakup ilmu keislaman, sains, dan humaniora.

Penguatan dengan menyatukan epistemologis sains Islam menjadi salah satu fokus, disertai peningkatan publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi, seperti Scopus dan Web of Science.

Lebih lanjut, dia menawarkan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dan Participatory Action Research (PAR), dalam sasaran di bidang pemberdayaan masyarakat.

Kedua pendekatan tersebut, selanjutnya akan menjadi rujukan pengabdian masyarakat dalam program “UIN KHAS Membangun Desa”, KKN Tematik di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta program internasional.

Selain itu, pemberdayaan juga diarahkan pada pengembangan kemandirian ekonomi masyarakat dan inkubasi ekosistem halal.

“Melalui pendekatan ABCD dan PAR, sivitas akademika UIN KHAS Jember akan melebur bersama masyarakat, mengkapitalisasi aset lokal untuk mencapai kemandirian ekonomi, ekologi, dan penguatan ekosistem halal dari akar rumput,” ujarnya.

Sedangkan di aspek penguatan mutu alumni, Chotib menyampaikan pentingnya memiliki lulusan yang berkarakter moderat atau Wasathiyah, serta mampu bersaing di kancah internasional.

Penguatan karakter merujuk pada keteladanan sosok ulama kharismatik KH. Achmad Siddiq.

Upaya tersebut, didukung dengan pembinaan Ma’had Al-Jami’ah, inkubator bisnis, pengembangan jejaring kompetensi, serta program Global Student Mobility.

Chotib juga menempatkan kemitraan strategis multisektor sebagai bagian penting dalam pengembangan kampus UIN KHAS Jember.

Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri melalui pendekatan Triple Helix, ditujukan untuk mendorong hilirisasi hasil penelitian.

Perluasan jejaring melalui konsorsium perguruan tinggi Islam global, menjadi salah satu strategi kampus untuk memperkuat kolaborasi akademik dan meningkatkan reputasi institusi di tingkat internasional.

Menurutnya, pengembangan kampus tidak cukup hanya terpusat pada kegiatan akademik di lingkungan internal. Namun, perguruan tinggi juga perlu membangun kolaborasi yang menghasilkan dampak positif bagi masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.

Selanjutnya, dalam bidang transformasi digital, Chotib menawarkan digitalisasi ekosistem layanan kampus melalui Smart Islamic University System.

Sistem tersebut menjadi bagian dari gagasan pengembangan layanan perguruan tinggi yang lebih terintegrasi.

Dalam upaya ini, Chotib mendorong penerapan Eco-Campus Initiative dengan berwawasan lingkungan dan berlandaskan teologi lingkungan atau Fiqh al-Bi’ah.

Konsep kampus hijau, merupakan wujud kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pengembangan institusi pendidikan Islam.

Sementara, pada aspek tata kelola kelembagaan, Chotib menargetkan penerapan Good University Governance (GUG) atau tata kelola perguruan tinggi yang baik.

Salah satu agenda strategis yang ditargetkan, yaitu percepatan transformasi kelembagaan dari Badan Layanan Umum (BLU) menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).

Dia juga menekankan penerapan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

“Bertransformasi dari BLU menuju PTN-BH adalah kunci agar kampus kita lincah, mandiri secara finansial, serta bersih melalui penegakan Zona Integritas WBK-WBBM demi mengawal kemaslahatan umat,” ucapnya.

Chotib juga menyoroti akan pentingnya perubahan paradigma pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, pengabdian kampus tidak seharusnya hanya bersifat karitatif atau menggunakan pendekatan top-down yang menempatkan masyarakat sebagai objek pasif.

Namun, masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dan partisipatif, dalam mengenali potensi dan mengembangkan aset lokal, agar mampu mencapai kemandirian ekonomi dan sosial.

Dia berharap lulusan UIN KHAS Jember, tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga bepegangan pada sikap moderasi beragama atau Wasathiyah.

Sikapi tersebut berlandaskan pada trilogi ukhuwah yang diwariskan oleh KH. Achmad Siddiq, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah bashariyah.

Dengan menyatukan pendidikan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, penguatan alumni, kemitraan, transformasi digital, dan tata kelola kelembagaan, Chotib ingin menjadikan UIN KHAS Jember sebagai kampus Islam yang mampu menjawab tantangan lokal, sekaligus berkontribusi serta berdampak di kancah Internasional.

Dia menegaskan bahwa visi-misi yang diusung memposisikan kampus mempunyai peta kemajuan akademik yang jelas dan terukur.

“Intinya, tagline visi misi saya adalah menuju UIN KHAS PASTI,” tegasnya.***

Pos terkait