PBAK UIN KHAS Jember, Mahasiswa Baru Didorong Kuasai AI hingga Ciptakan Lapangan Kerja

JEMBER – Mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember didorong memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi, karakter, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. M. Arskal Salim GP., M.Ag., saat menjadi pembicara utama dalam kegiatan PBAK, Senin (31/8/2026).

Di hadapan mahasiswa baru, Arskal menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi perubahan zaman, terutama perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurut dia, perguruan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang memiliki gelar akademik, tetapi juga individu yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia memperkenalkan prinsip 3I sebagai bekal menjalani pendidikan tinggi, yakni ilmu, integritas, dan impact atau dampak nyata.

“Ilmu, integritas, dan impact,” kata Prof. Arskal saat menjelaskan tiga fondasi yang perlu dikembangkan mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Ia menilai, penguasaan materi perkuliahan harus disertai karakter yang kuat serta kemampuan menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.

Karena itu, mahasiswa diminta tidak menjadikan indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan akademik.

“Jangan hanya mengejar IPK,” tegasnya.

Arskal menjelaskan, status mahasiswa menuntut seseorang lebih mandiri dalam berpikir. Mereka perlu mengidentifikasi persoalan, mengembangkan pertanyaan kritis, dan merumuskan solusi berdasarkan ilmu yang dipelajari.

“Mulai hari ini, kalian harus belajar bertanya, masalah apa yang bisa saya pecahkan dengan ilmu saya?” ujarnya.

Selain kemampuan akademik, pemahaman terhadap teknologi juga dinilai penting untuk menghadapi persaingan masa depan. Mahasiswa perlu menguasai AI tanpa mengabaikan etika dan tanggung jawab.

“Mahasiswa yang tidak mengenal AI pada hari ini akan tertinggal. Tetapi mahasiswa yang menggunakan AI tanpa etika juga akan kehilangan masa depannya,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa AI semestinya digunakan untuk mendukung proses belajar, penelitian, dan pengembangan kreativitas, bukan menjadi sarana menyontek atau melakukan plagiarisme.

“AI boleh membantu otak kita, tapi jangan sampai AI menggantikan otak kita,” tegas Arskal.

Selama kurang lebih empat tahun perkuliahan, mahasiswa juga diminta membangun portofolio melalui karya, prestasi, organisasi, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

“Saudara harus punya karya, bukan hanya tugas kuliah. Saudara harus punya prestasi. Saudara harus punya pengalaman organisasi, punya pengalaman pengabdian,” tuturnya.

Kemampuan bahasa asing, seperti Arab, Inggris, dan Mandarin, turut disarankan untuk dikembangkan agar mahasiswa memiliki peluang lebih luas dalam pendidikan maupun dunia kerja.

Arskal berharap lulusan UIN KHAS Jember tidak sekadar menjadi pencari kerja, tetapi mampu melahirkan inovasi, membuka peluang usaha, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

“Jadilah sarjana yang membawa solusi. Jangan hanya mencari pekerjaan, tetapi yang menciptakan pekerjaan,” pesannya.

Ia menutup pesannya dengan mengajak mahasiswa menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, inovatif, dan berdampak. Ia juga mengajak peserta mendoakan para pendahulu kampus, termasuk almarhum Prof. Dr. H. Hepni, serta sivitas akademika yang sedang sakit.

Pos terkait