Kisah Penjual Bunga Tabur Makam di Trotoar Pasar Tanjung Jember Jelang Lebaran

Mashudi, warga Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Jember, sedang memilah daun pandan untuk dipotong (Foto: Fadli/Jurnalbangsa).
Mashudi, warga Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Jember, sedang memilah daun pandan untuk dipotong (Foto: Fadli/Jurnalbangsa).

Jember, Jurnalbangsa.com – Tampak jauh para pedagang bunga tabur makam berjejer memadati trotoar pinggir Jalan Trunojoyo Pasar Tanjung, Kecamatan Kaliwates, Jember.

Tak peduli terik matahari yang semakin di atas kepala menjelang lebaran tahun 2026. Para penjual bunga tabur makam tetap duduk di atas trotoar, sambil menunggu pembeli membawa satu kresek yang berisi campuran bunga mawar dan daun pandan itu.

Momentum akhir bulan Ramadan, menjadi hari yang selalu dinanti oleh para penjual bunga tabur makam. Salah satunya, Mashudi, warga Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Jember.

Ia terlihat sibuk memotong daun pandan untuk dimasukkan ke dalam kresek.

Mashudi menjalani pekerjaannya sudah sejak tahun 1983. Ia mengaku berkat menjual bunga tabur makam, dirinya bisa menafkahi keluarganya.

“Karena kesenangan jual (bunga) ini memang jadi barokah itu belanja untuk makan keluarga sehari-hari, ada manfaatnya itu senang sekali jual bunga,” kata dia saat ditemui di lapak jualannya, pada Jum’at, (20/3/2026) siang hari.

Meskipun, menurut Mashudi permintaan bunga tabur makam tidak selalu laku terjual setiap harinya. Selain bukan karena momentum hari raya dan awal Bulan Ramadan, kehadiran peziarah yang akan ke makam juga sepi.

Di lain waktu, Mashudi menceritakan pernah ada pembeli yang memborong jualannya, sehingga ia bisa pulang ke rumah lebih awal.

Sambil mewadahi bunga mawar dan potongan daun pandang ke dalam kresek, ia menawarkan pada setiap orang yang lewat depan lapak jualannya.

Mashudi mengaku jika bunga mawar dan daun pandan diperoleh dari hasil beli ke tetangganya untuk dijual kembali.

Saat sudah menjelang hari raya, satu kresek plastik bunga makam, Mashudi jual dengan harga ratusan.

“Sekarang ya satu plastik besar itu sampai Rp 100 ribu. Kalau hari biasa paling lakunya Rp 20 ribu, Rp 15 ribu,” kata dia.

Disuruh Pindah Satpol PP

Lain kisah lagi, dengan Mila. Penjual bunga makam yang beralamat sama dengan Mashudi.

Mila mengatakan jika lapaknya pernah disuruh pindah oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

“Ini dulunya pernah jualan di sini. Jualan di depan itu tidak boleh harus mundur gitu. Habis itu suruh pindah ke atas (Lantai 2 Pasar Tanjung) itu di sana. Tapi sudah tiga kali ganti sudah ini,” katanya.

Dengan kisaran waktu kurang lebih 15 tahunan, Mila telah menghidupi keluarganya dengan hasil berjualan bunga tabur makam.

Mila mengatakan penjual bunga tabur makam di Pasar Tanjung banyak yang berasal dari Karangpring, Kecamatan Sukorambi.

Menurutnya, harga yang dibandrol setiap penjual juga berbeda-beda.

“Kalau sekarang standar paling tinggi itu harganya Rp 125 ribu. Hari-hari biasa itu kadang-kadang ya Rp 40 ribu, Rp 35 ribu, Rp 25, ribu, katanya, sambil menyapa pembeli yang lewat.

Daun pandan yang Mila jual, ia dapat dari hasil beli ke tetangganya seharga Rp 20 ribu satu kresek.

Menjelang tiba hari raya tahun ini, ada 15 hingga 20 kresek bunga tabur makam miliknya yang terjual.

Trotoar mungkin sekadar jalanan pinggir untuk pejalan kaki, tapi bagi mereka yang sedang mengais rezeki, tempat itu sungguh telah banyak berjasa dalam menghidupi keluarganya.

Pos terkait