Ikut Uji Kelayakan KPI, Ferdi Setiawan Usung Konsep SMART untuk Jawab Tantangan Penyiaran Digital

JAKARTA – Ferdi Setiawan memaparkan gagasan transformasi Komisi Penyiaran Indonesia saat mengikuti fit and proper test calon Komisioner KPI periode 2026–2029 di Komisi I DPR RI, Selasa (14/7/2026).

Dalam pemaparannya, Ferdi memperkenalkan konsep KPI SMART sebagai strategi memperkuat peran lembaga menghadapi perubahan dunia penyiaran pada era konvergensi digital.

Ia menyampaikan gagasan tersebut melalui karya tulis berjudul Mewujudkan Komisi Penyiaran Indonesia SMART Menuju Penyiaran Indonesia yang Sehat, Kritis, dan Mencerdaskan di Era Konvergensi Digital.

Menurut Ferdi, masyarakat kini memperoleh informasi melalui berbagai platform digital, tidak lagi hanya bergantung pada televisi maupun radio sebagai sumber utama informasi.

“Perubahan pola konsumsi informasi menuntut KPI bertransformasi agar tetap relevan melindungi kepentingan publik,” kata Ferdi dalam pemaparannya.

Ia menilai perkembangan teknologi juga memunculkan persoalan baru, mulai hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga konten berbasis kecerdasan buatan dan teknologi deepfake.

Selain itu, algoritma platform digital dinilai semakin menentukan informasi yang diterima masyarakat, sehingga diperlukan pengawasan yang mampu mengikuti perkembangan tersebut.

“Platform digital memiliki jangkauan sangat besar, tetapi belum berada dalam mekanisme pengawasan yang setara dengan lembaga penyiaran,” ujarnya.

Ferdi juga menyoroti ketimpangan regulasi. Televisi dan radio wajib mematuhi Pedoman Perilaku Penyiaran serta Standar Program Siaran di bawah pengawasan KPI.

Sementara layanan digital belum memiliki aturan pengawasan yang seimbang, meski pengaruhnya terhadap masyarakat terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Kondisi ini menunjukkan revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran menjadi kebutuhan yang mendesak,” ucapnya.

Sebagai solusi, Ferdi menawarkan konsep KPI SMART yang terdiri atas lima prinsip, yakni Simple, Measurable, Aktual, Responsible, dan Toughness.

Simple menitikberatkan birokrasi sederhana, pelayanan cepat, serta pengawasan yang mudah diakses. Measurable memastikan setiap kebijakan memiliki indikator kinerja yang jelas dan transparan.

Aktual mengarahkan KPI memanfaatkan AI, big data, dan sistem pemantauan digital. Responsible menekankan akuntabilitas serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengawasan.

“Toughness berarti KPI harus tetap independen menghadapi tekanan politik, ekonomi, maupun kepentingan industri demi menjaga kepentingan publik,” tegas Ferdi.

Ia berharap KPI menjadi penjaga kualitas ruang publik digital sekaligus menghadirkan ekosistem penyiaran yang sehat, kritis, mencerdaskan, tanpa mengurangi kebebasan berekspresi sesuai konstitusi.

Penulis: Abdus Syakur
Editor: Supriadi

Pos terkait