Andika Perkasa Bersinar, Prabowo Subianto Meredup ??

  • Whatsapp

In’am eL Mustofa
Direktur eksekutif Lembaga studi Pendidikan dan Kebangsaan ( LeSPK ) Yogyakarta

JURNAL BANGSA,COM – HARI ini Senin,8 November 2021 DPR akan melakukan sidang untuk menent dika Perkasa (AP) sebagai Panglima TNI, sudah banyak diduga DPR akan terima begitu saja, uji kelayakan yang baru lalu dilaksanakan adalah acara seremoni belaka.

Catatan berat bagi DPR adalah posisi sepenting Panglima TNI, DPR hanya numpang lewat saja sebagai perestu atas keinginan presiden. Sedikitpun DPR tidak menunjukkan sebagai wakil rakyat yang berkemampuan untuk memberikan catatan kritis atas dikukuhkannya Andika Perkasa sebagai Panglima TNI. Sayup suara 14 LSM yang keberatan atas Pilihan Presiden terhadap AP tak terdengar di gedung DPR. Tentu hal ini menambah catatan buruk bagi DPR, sekaligus meyakinkan kepada rakyat bahwa lembaga tinggi tersebut hanya sebagai stempel, memberi catatan kecil pada presiden saja tidak berani. Meskipun pengangkatan Panglima TNI merupakan hak prerogratif Presiden, semestinya DPR tidak harus kehilangan nalar warasnya.

Perlu diingat kembali bahwa dengan sistem Presidensial, otoritas presiden akan menjadi lebih kuat dan banyak dalam setiap sector dan level, kesemuanya terlindungi oleh hukum yang dibuat oleh DPR dan DPR/Presiden. Namun cara bernegara kita jangan sampai terjebak menuju kubangan diktator konstitusional.

Memang secara aturan presiden tak salah memilih AP, tak ada ketentuan untuk secara formal panglima diisi secara bergiliran. Dulu juga pernah dilakukan saat Gotot Nurmantyo menggantikan Moeldoko. Namun publik membaca bahwa tarik menaraik kepentingan di lingkaran presiden aromanya sangat kuat. Satu sisi Presiden Jokowi adalah Presiden yang diusung PDIP dalam hal ini Megawati, sedang sisi yang lain tangan kanan presiden Jokowi, Luhut Binsar Panjaitan ( LBP ) adalah orang yang selama ini selalu memegang peranan penting dalam hal strategis. Keduanya berseteru dalam memberi pengaruh pada Presiden, dan yang paling dekat adalah untuk tahun politik menuju 2024.

LBP bermain mata dengan Ganjar Pranowo agar untuk terus menerus bersafari, publik membaca sebenarnya Ganjar pranowo adalah loyalis PDIP dan sangat menghormati Megawati. Namun apa daya karena safari ke mana-mana mampu membuahkan hasil hingga menyalip Puan maharani, tentu membuat Megawati meradang. Ya, LBP dalam hal berhasil membuat Megawati kecut. Deal Puan Maharani akan tetap aman, dan Ganjar akan surut. Namun tempat Puan ada di nomer dua. Siapa Nomer satu??

Pada ‘nomer satu’ itulah letak kecerdasan LBP lebih dua tingkat dari Megawati. Ia pasang badan terhadap Presiden Joko Widodo agar Megawati melunak terhadap Presiden. Kedua mampu menurunkan posisi Puan untuk kursi, cukup yang kedua saja, sekaligus hal ini membuyarkan konsentrasi Prabowo Subianto (PS) yang telah terlebih dahulu melakukan komunikasi intensif dengan Megawati. LBP dan para jendral yang lain tetap membaca bahwa Panglima TNI sangat strategis. Dari pintu belakang teman aktivis penulis di Jakarta didapatkan informasi bahwa diajukan nama AP oleh presiden ke DPR sudah sepengetahuan LBP, dan LBP komunikasinya sangat lancar dengan AM Hendropriyono.

Perlu diketahui bersama bahwa arah politik LBP dan AM Hendropriyono berbeda dengan PS. Sehingga meskipun Puan Maharani di downgrade, LBP, AM Hendropriyono dan Megawati bersepakat untuk kursi nomer satunya biarkan dulu kosong. Dengan kata lain bahwa PS perlu membuat opsi baru jika akan tetap maju sebagai capres di lain pihak AP yang dipuji-puji oleh wartawan senior dan mantan mentri BUMN diberi waktu dan ruang apakah ia akan makin cemerlang atau redup selama satu tahun lebih satu bulan dalam masa tugas barunya. Cemerlang berarti punya kans kuat berpasang dengan Puan, redup berarti habis karir politiknya setelah pensiun. Dan redup dalam arti lain karena AP masih dalam bayang-bayang AM Hendropriyono sekaligus LBP.

Inilah warna lukisan perpolitikkan Indonesia yang dalam banyak hal terjadi dan diputuskan dalam ruang gelap yang tak diketahui oleh publik dan lembaga-lembaga negara, senyap namun berkemungkinan besar akan terjadi. Pada ruang yang terang benderang lukisan politik sudah terpampang persyaratan presidensial threshold 20%, seolah tertutup sudah calon alternative yang potensial seperti Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo, kedua kandidat tersebut perlu membutuhkan momentum yang besar untuk bisa berlaga dalam Pilpres 2024. Momentum adalah gejala sosial sehingga sangat mungkin untuk direkayasa. Akhirnya selamat menikmati tahun politik, makin ambyar atau tidak sama sekali.(***)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *