Ust Abdurrahman: Pentingnya Mengembangkan Sikap Zuhud

  • Whatsapp

Jakarta, Jurnalbangsa.com – Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang muslim tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, kecuali jika ia mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang sesama manusia. Cinta Allah dapat diraih dengan mengutamakan kepentingan akhirat daripada kepentingan dunia. Sedangkan kasih sayang sesama manusia dapat diraih dengan tidak serakah ingin memiliki harta dunia yang dimiliki orang lain, dan lebih mengutamakan amal shalih. Karena amal shalih akan lebih bermanfaat bagi akhiratnya.

“Inilah yang dimaksud dengan Abul Abbas dengan pentingnya seorang muslim bersikap Zuhud terhadap dn unia,” ujar Ustadz Abdurrahman, Lc, MA ketika membahas Hadist Arbain Ke-31 Karya Imam Nawawi di Majlis Taklim Ad Dzakir, Kampung Lio, Jatinegara, Jakarta, Rabu (27/10/2021).

Mengutip hadist Abul Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’idi RA. berkata, Ustadz Abdurrahman mengatakan “Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. dan berkata, “Wahai Rasulallah, tunjukkan padaku suatu amalan yang apabila kulakukan aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia.” Rasululullah saw. bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, pasti Allah mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang di tangan manusia, pasti manusia pun mencintaimu.” (HR Ibnu Majah dan yang lain, hadits ini hasan).

Lalu cara mendapatkan kecintaan Allah? Ustadz menjelaskan bahwa kita bisa mendapatkan mahabbatullah [cinta Allah] dengan bersikap zuhud terhadap dunia, karena Allah mencintai orang yang menaati-Nya. Dengan zuhud terhadap dunia, berarti kita hanya mengisi ruang hati kita dengan kecintaan kita kepada Allah, maka Allah pun akan mencintai kita. Lain halnya dengan orang yang mencintai dunia. Ruang hatinya akan terisi kecintaan dunia, hingga tidak mungkin menyatu dengan kecintaan Allah.

Karena itu dalam riwayat Rasulullah saw. bersabda, “Cinta dunia adalah pangkal segala dosa.”

Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ini menambahkan kutipan dalam Firman Allah, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudina tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning.” (Al-Hadid: 20).

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *