Pigai Klarifikasi Cuitannya, Roy Suryo: Tanda Baca Itu Penting

  • Whatsapp

Jakarta, Jurnalbangsa.com – Cuitan aktivis HAM asal Papua Natalius Pigai jadi polemik karena dianggap rasis lantaran menyinggung orang Jawa Tengah, Presiden Jokowi , dan Ganjar Pranowo. Pigai sudah mengklarifikasi cuitannya itu bukan bermaksud rasis.

Terkait itu, mantan Anggota DPR Roy Suryo  menyampaikan pandangannya. Menurutnya, cuitan di Twitter hanya 140 karakter sehingga perlu lugas, jelas, dan tegas dalam menulis.

“Ini kan masalahnya ada di Twitter. Twitter berbasis 140 karakter. Orang harus cerdas dan juga bernas dalam menulis di Twitter. Memang betul apa yang ditulis Bang Pigai ini bahasanya kritis. Kritis itu artinya salah memaknai sedikit memang bisa berbahaya,” kata Roy dalam Catatan Demokrasi TVOne yang dikutip VIVA, Rabu malam, 6 Oktober 2021.

Dia mengatakan dalam polemik ini, Jokowi dan Ganjar bila merasa tersinggung bisa melaporkan Pigai. Bukan pihak lain seperti relawan. Meski demikian, ia yakin baik Jokowi dan Ganjar tak akan mempolisikan Pigai.

Tapi, saya percaya pak Jokowi dan mas Ganjar itu orang yang baik, lembut. Mungkin akan anggap, ah ya sudahlah,” tutur Roy.

Roy menangkap makna cuitan Pigai memang ditujukan kepada Jokowi dan Ganjar. Ia bilang cuitan itu bukan untuk orang Jawa Tengah

“Jadi, tidak terkait dengan provinsinya. Tapi, kebetulan Pak Jokowi dan mas Ganjar orang Jawa Tengah. Pak Ganjar itu orang Purworejo, Kebumen. Pak Jokowi Solo,” jelas pakar telematika tersebut.

Namun, ia mengingatkan lagi dalam nge-tweet mesti memperhatikan pungtuasi yaitu tanda baca yang digunakan secara konvensional untuk memisahkan pelbagai bagian dari satuan bahasa tertulis seperti koma, titik dua, titik.

“Kalau saya melihat, saya harus cerdas membaca kata ya. Bahwa koma itu memang penting. Jadi, pungtuasi itu penting,” sebut Roy.

Sebelumnya, Pigai mengklarifikasi cuitannya yang jadi polemik karena dianggap rasis lantaran menyinggung Jawa Tengah, Presiden Jokowi, dan Ganjar Pranowo. Pigai menyebut maksud cuitannya hanya mengingatkan Ganjar yang dianggapnya sebagai magnet politik Indonesia dan pemimpin masa depan.

“Saya melihat Pak Ganjar adalah magnet politik Indonesia masa depan. Dengan Twitter yang saya tulis ini, saya mengingatkan Pak Ganjar supaya jangan seperti presiden terdahulu dalam bidang HAM,” kata Pigai dalam Catatan Demokrasi tvOne.

Dia menyebut beberapa hal yang jadi persoalan Papua saat ini seperti perampasan kekayaan, membunuh rakyat, dan menggelar operasi militer di Papua. Pigai bilang rasis dalam 7 tahun terakhir ini meningkat.

“Saya ingatkan Pak Ganjar adalah masa depan Indonesia. Dan, kalau Pak Ganjar menjadi Presiden tidak ada makan siang yang gratis,” jelas Pigai.

Dia melanjutkan cuitannya itu juga merujuk kegiatan Ganjar yang beberapa hari lalu ke Papua. Menurutnya, kegiatan ke Papua itu juga sudah di-posting Ganjar ke akun Instagram.

“Saya sayang sama Pak Ganjar. Jadi saya tidak benci sama Pak Ganjar. Bahwa apa yang saya tulis itu saya tekan. Contohnya apa nyatanya Pak Ganjar ke Papua dalam rangka PON yang sudah di-upload di Instagram,” tambah Pigai.

Menurut Pigai, kegiatan Ganjar ke Papua memiliki orientasi politik masa depan. Apalagi Ganjar pernah jadi Wakil Ketua Komisi II DPR sekaligus pimpinan Otonomi Khusus Papua.

“Karena itu saya memiliki kewajiban untuk mengontrol kualitas dan mengingatkan agar tidak terulang,” sebutnya.

Terkait kata Jawa Tengah dalam cuitannya, ia bilang itu bukan suku tapi maksudnya menekankan provinsi asal Jokowi dan Ganhar. Sebab, Ganjar dan Jokowi adalah dua tokoh yang berasal dari Jawa Tengah.

“Mereka berdua berasal dari Jawa Tengah. Jawa Tengah itu pun huruf J-nya besar, T-nya besar. Antara Jawa Tengah dengan Jokowi tidak ada koma. Artinya kepada langsung subjek,” tutur Pigai. [Viva]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *