Derri Kusuma Bekerja Sejak Kuliah, Kini Miliki Bisnis Nata De Coco di Lampung

  • Whatsapp

Lampung, Jurnalbangsa.com – Derri Kusuma pengusaha yang bergelut di bidang Agroindustri dengan produk nata de coco mentah, minuman nata de coco ( TH Brothers Group) mulai menjalankan bisnis sejak lulus kuliah setelah resign dari perusahaan makanan dan minuman di Bekasi.Derri memulai bisnis sendiri tahun 2011. Memutuskan pulang kampung dan membuka usaha fermentasi nata de coco. Dia menyebutkan memilih usaha nata de coco, lantaran memiliki pengalaman bekerja diperusahaan makanan minuman yang memproduksi minuman nata de Coco.

“Selain itu, banyak mengenal perusahaan yang membutuhkan nata de coco untuk bahan baku minuman. Sebab, sumber bahan baku tahun 2011 di Lampung sangat melimpah,” katanya.Dengan membuka bisnis ini, perusahaan Derry banyak menyerap tenaga kerja. Selain itu bisnis agroindustri nata de coco termasuk unik. Bisnis ini tidak mudah dijalankan setiap orang, atau tidak dapat digantikan dengan teknologi.

Sebelum memutuskan mendirikan bisnis sendiri, pada tahun 2007 Derri pernah bekerja sebagai OB dan menjadi helper produksi dengan gaji Rp 32.500/hari. Malam harinya kuliah.

Ternyata, karir di perusahaan tempat Derry bekerja terus menanjak. Hingga pada tahun 2009 mendapatkan gaji yang lumayan. Namun, dia memutuskan pindah kerja ke perusahaan makanan minuman yang pendapatan lebih dibanding perusahaan sebelumnya.

“Tetapi diperusahaan makanan tersebut saya mendapatkan posisi supervisor, walaupun gaji pada saat itu tidak sampai separuh dari perusahaan yang lama,” bebernya.Menurutnya, bekerja itu harus dapat pengalaman dan uang kalaupun tidak minimal pengalaman. Di tahun 2009 berkarir di perusahaan makanan minuman dari mulai supervisor sampai menjadi manager operasional dan purchasing.”Perusahaan itulah mendidik saya untuk bisa mengendalikan sebuah perusahaan yang nilai asetnya mencapai 23 milyar rupiah. Padahal usia saya saat itu masih 22 Tahun. Saat itu hampir semua kegiatan perusahaan saya kendalikan kecuali keuangan dan marketing,” ungkapnya.

Hingga akhirnya, di tahun 2011 dia memutuskan resign dan membuat usaha sendiri. Derri menyebutkan jika bisnis dimodali investor dengan sistem bagi hasil keuntungan.

“Awal usaha tidak mulus seperti yang dibayangkan, sempat merugi selama 3 bulan. Nilainya ratusan juta rupiah. Pada saat itu hampir menyerah, akan tetapi saya yakin produksi nata de Coco tidak ada kegagalan. Akhirnya lama kelamaan terus belajar hingga bisa bertahan sampai saat ini,” bebernya.Dia menceritakan jika kontrak awal dilakukan dengan perusahaan besar pada tahun 2012, yakni dengan Suntory Garuda Food. Kemudian bertambah dengan beberapa perusahaan lainnya.

Menurutnya, dalam bisnis perusahaan bukan hanya bicara uang, tetapi komitmen untuk menciptakan produk yang berkualitas dan kuantitas stabil. Sehingga dapat memuaskan para pelanggan. Terkait dengan produknya, Derry mengatakan untuk masing-masing nata de Coco mentah bahan baku industri dibandrol kisaran Rp 3000 dan minuman freshCoco dijual secara eceran Rp 15 ribu.

Rencananya untuk mengembangkan bisnis ke depan akan beorientasi ekspor produk nata de coco. Derri membagikan tips bisnis di antaranya amanah, komitmen, konsisten.”Jadi, ciptakanlah value atau nilai lebih dari diri kita, produk kita, brand kita, perusahaan kita menciptakan value atau nilai butuh waktu lama, dan untuk meraih sukses butuh momen yang tepat,”tandasnya. Derri bergabung dengan komunitas TDA mulai tahun 2015 banyak manfaat yang diperoleh seperti jaringan bisnis, mentor dan ilmu bisnis. (Kumparan.com)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *